Senin, 11 Februari 2013

Induksi


 
            Induksi adalah suatu bentuk penalaran yang menyimpulkan suatu proporsisi umum dari sejumlah proporsisi khusus yang berbentuk ‘S’ ini adalah ‘P’ (Subjek ini adalah perdikat). Aristoteles mendefinisikan induksi yaitu proses peningkatan dari hal-hal yang bersifat individual kepada yang bersifat unviversal (a passage from individuals to universals). Di situ premisnya berupa proporsisi-proporsisi singular, sedang konklusinya sebuah proposisi universal, yang berlaku secara umum.Maka induksi dalam bentuk ini disebut generalisasi.

Ciri-ciri dari induksi :
1. Premis-premis dari induksi ialah proporsisi emperik yang langsung kembali pada observasi indera atau proporsisi dasar (basic statement)
2. Konklusi penalaran induksi itu lebih luas daripada apa yang dinyatakan premis-premisnya.
3. Meskipun konklusi induksi itu tidak mengikat, akan tetapi manusia yang normal akan menerimanya, kecuali kalau ada alasan untuk menolaknya.

GENERALISASI INDUKTIF
Dalam induksi kesimpulan yang dicapai selalu berupa generalisasi (pengunguman).
Syarat-syarat generalisasi
1. Generalisasi harus tidak terbatas secara numerik
2. Generalisasi harus tidak terbatas secara spasio-temporal, artinya, tidak boleh terbatas dalam ruang dan waktu
3. Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaian.

            Apabila kita hendak membuat generalisasi induktif, prosesnya adalah sebagai berikut: Seorang siswa smp yang mengikuti ulangan harian hanya belajar siang hari sebelumnya (tidak belajar pada malam hari), remidi atau tidak lulus. Pada kesempatan ulangan harian berikutnya ia juga hanya belajar pada siang hari sebelumnya saja, tidak lulus. Dengan remidial tiga kali berturut-turut ia sudah dapat membuat generalisasi induktif: “Saya tidak dapat lulus pada ulangan harian apabila saya hanya belajar pada siang hari saja.”
            Apabila diamati hakikatnya, terdapat generalisasi empiris dan generalisasi yang diterangkan. Suatu generalisasi empiris mengatakan bahwa suatu hubungan universal yang ada adalah begini begitu. Begitu pengetahuan maju dan sebab serta akibat dipelajari maka suatu generalisasi empiris menjadi generalisasi yang diterangkan.

Induksi Tidak Lengkap dan Hakikat Kesimpulannya
            Induksi lengkap diperoleh manakala seluruh kejadian khususnya telah diselidiki dan diamati, namun sudah diambil suatu kesimpulan umum, maka diperoleh induksi tidak lengkap. Alasan adanya induksi tidak lengkap: keterbatasan manusia. Penalaran induktif, sesuai dengan sifatnya, tidak memberikan jaminan bagi kebenaran kesimpulannya. Meskipun misalnya, premis-premisnya semua benar, tidaklah secara otomatis membawa akibat pada kebenaran kesimpulan. Pada induksi tidak lengkap kesimpulannya dapat menjadi bersifat tidak lebih dari ‘mungkin betul’ manakala premis-premisnya benar. Kesimpulan penalaran induktif tidak 100% pasti.

Induksi dan Metode Ilmiah
            Induksi erat hubungan dengan metode ilmiah (scientific method). Sebab induksi adalah dasar metode ilmiah. Bahkan terciptanya kerangka berfikir bahwa, ilmu adalah ilmu manakala berupa penalaran induktif. Hal ini tidak benar. Pengamatan ilmiah terhadap hal-hal yang konkret individual menjurus pada penemuan fakta dan teori-teori serta hipotesis-hipotesis yang merupakan asumsi-asumsi. Semuanya merupakan generalisasi induktif.
            Menaruh kepercayaan pada sistem berfikir di kenal sebagai metode ilmiah. Pertama-tama, kita mengamati fakta-faktanya; berikutnya membuat hipotesis guna menjelaskan fakta-faktanya; langkah ketiga menguji hipotesis secara tuntas. Tidak cukup sekali dalam melakukan pengamatan ilmiah untuk mencari kebenaran.
Misalnya menguji teori teman yang mengatakan bahwa orang yang bergaul dengan orang Madura mempunyai sifat tempramental yang tinggi.
·         Langkah 1
Selidiki orang yang bergaul dengan orang Madura hubungan dengan sifatnya. (manakala korelasi kecil atau tidak ada korelasi antara kedua faktor, maka telah membuktikan bahwa pernyataan itu tidak sah. Tetapi agakknya terdapat hubungan tertentu diantara orang Madura dan tempramental tinggi, maka perlu melanjutkan pengujian secara tuntas.)
·         Langkah 2
Selidiki sejumlah besar orang yang tidak bergaul dengan orang Madura hubungan dengan sifatnya, dan pertimbangkan hasilnya.
·         Langkah 3
Selanjutnya memeriksa sejumlah orang yang bergaul dengan orang sifat tempramental tinggi guna melihat apakah orang tersebut bergaul atau tidak dengan orang Madura.
·         Langkah 4
Pemeriksaan terakhir yang harus dibuat adalahuntuk melihat apakah sejumalah sama dari orang-orang dengan sifat tempramental rendah memiliki pergaulan dengan oran Madura atau yang lainnya yang tidak terkualifikasikan.
Begitulah ilmu pembuktian, yakni kesimpulan diteliti dengan seksama melalui bukti-bukti (evidensi) yang memadai. Jangan jadi peragu-ragu yang sinis dan jangan sekali-sekali menerima kesimpulan yang tidak mempunyai bukti-bukti.

ANALOGI INDUKTIF
Analogi sebagai dasar induksi
            ‘Analogi dalam bahasa Indonesia ialah ‘kias’ (Arab: qasa = mengukur, membandingkan). Berbicara tentang analogi adalah berbicara tentang dua hal yang berlainan, yang satu bukan yang lain. Dalam mengadakan perbandingan, orang mencari persamaan dan perbedaan diantara hal-hal yang diperbandingkan.
Apa yang ditulis oleh Chairil Anwar dalam sajaknya:
“Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang…”
Bukan sekedar perumpamaan, akan tetapi suatu penalaran yang didasarkan ats analogi. Chairil tidak hanya membuat perbandingan diantara dirinya sendiri dengan binatang jalang, akan tetapi juga menarik kesimpulan ats dasar analogi itu, yaitu : (aku ini) dari kumpulannnya terbuang. Prinsip yang menjadi dasar penalaran analogi induktif itu dapat dirumuskan demikian :
            Kareba d itu analog dengan a, b, dan c,  maka apa yang berlaku untuk a, b dan c dapat diharapkan juga akan berlaku untuk d.
Contoh            :
a. Ita anak ibu Kiki adalah anak yang cantik dan anggun
b. Ina anak ibu Kiki adalah anak yang cantik dan anggun
c. Ifa anak ibu Kiki adalah anak yang cantik dan anggun
d. Ira adalah anak ibu Kiki
            Ira anak ibu Kiki adalah anak yang cantik dan anggun
            Jdi, analogi induktif tidak hanya menunjukkan persamaan diantara dua hal yang berbeda, akan tetapi menarik kesimpulannya atas dasar persamaan itu. Berbeda dengan generalisasi induktif, yang konklusinya berupa proposisi universal, konklusi analogi induktif tidak selalu berupa proposisi universal, kan tetapi tergantung subjek-subjek yang diperbandingkan dalam analogi.











Referensi :
Dr. W. Poespoprodjo, SH dan Drs. EK. T.Gilarso, Logika Ilmu Menalar, CV. Pustaka Grafika, Bandung:1999
R.G. Soekadijo, Logika Dasar: Tradisonal, Simbolik, dan Induktif, Gramedia Pustaka Utana, Jakarta:1994

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca artikel ini ^_^ Silahkan memberi komentar dengan kata-kata yang sopan. Harap tidak memberi komentar dengan kata-kata kasar ^_^