Rabu, 30 Januari 2013

ALIRAN SUFI INDONESIA


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Wali Songo adalah nama yang tidak asing dikalangan masyarakat Indonesia, Terutama masyarakat Islam yang tinggal di Pulau Jawa. Wali Songo adalah nama yang sakral, sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang makam-makam anggota Wali songo banyak diziarahi orang. Anehnya, meskipun orang sudah berkali-kali berziarah ke makam Wali songo tapi tidak banyak yang mengetahui riwayat anggota Wali Songo itu sendiri.
Umumnya kita mengenal  Wali Songo hanyalah sembilan orang yaitu: Syekh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Gunung Jati. Sebenarnya Wali Songo adalah nama suatu dewan da’wah atau dewan mubaligh. Apabila salah seorang dari dewan tersebut pergi atau meninggal dunia maka akan segera diganti oleh Wali lainnya. Seperti tersebut dalam Kitab Kanzul Ulum Ibnul Bathuthah yang penulisannya dilanjutkan oleh Syeh Maulana Al-Maghrobi, Wali Songo melakukan sidang tiga kali yaitu:
Tahun 1404 M adalah sembilan wali
Tahun 1463 M masuk tiga kali mengganti yang wafat
Tahun 1463 M masuk empat wali mengganti yang wafat dan pergi
Menurut KH. Dachlan Abd. Qohar, pada tahun 1466 M, Walisanga melakukan sidang lagi membahas berbagai hal. Diantaranya adalah Syeh Siti Jenar, meninggalnya dua orang wali yaitu Maulana Muhammad Al-Maghrobi dan Maulana Ahmad Jumadil Qubro serta masuknya dua orang wali menjadi anggota WaliSanga. [1]
Aliran-aliran sufi di Indonesia diawali atau dimulai ada sejak zaman Wali songo (wali yang sembilan). Pada masa ini tasawuf mengalami perkembangan yang cukup pesat di Indonesia. Wali songo (sembilan wali) yang merupakan pelopor dan pengembangan agama Islam (Islamisasi) di pulau jawa pada abad ke-15. Perkembangan tasawuf sudah dimulai sejak zaman/masa Rasulullah. Kemudian pada sahabat dan terus berkembang hingga pada periode perkembangan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja dan bagaimana perkembangan aliran-aliran sufi di Indonesia ?
2.      Apa saja Aliran Tasawuf yang berkembang di Indonesia ?

C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui aliran-aliran sufi di Indonesia serta perkembangannya
2.      Dapat mengetahui aliran tasawuf yang berkembang di Indonesia
























BAB II
PEMBAHASAN

A.  Aliran-Aliran Sufi Di Indonesia
  1. Wali Songo
Wali Songo di periode Pertama yaitu, pada waktu Sultan Muhammad 1 memerintah kerajaan Turki, beliau menanyakan perkembangan agama islam kepada para pedagang dari Gujarat (India). Dari mereka Sultan mendapat kabar berita bahwa di pulau Jawa ada dua kerajaan Hindu yaitu Majapahit dari Pajajaran. Diantara rakyatnya ada yang beragama islam tapi hanya terbatas pada keluarga pedagang Gujarat yang kawin dengan para penduduk pribumi yaitu di kota-kota pelabuhan.
Sang Sultan kemudian mengirim surat kepada para pembesar islam di Aftika Utara dan Timur Tengah. Isinya meminta para ulama’ yang mempunyai karomah dikirim ke Pulau Jawa. Maka terkumpullah sembilan ulama’ berilmu tinggi serta mempunyai karomah.
Pada tahun 808 Hijriyah atau 1404 Masehi para ulama’ itu berangkat ke pulau Jawa. Mereka adalah :
a.    Maulana Malik Ibrahim, berasl dari Turki ahli mengatur negara. Berdakwah di Jawa bagian Timur. Wafat di Gresik pada tahun 1419 M. Kurang lebih satu kilo meter disebelah utara Pabrik Semen Gresik.
b.    Maulana Ishaq, beasal dari Samarkan (dekat Burhara, Rusia Selatan). Beliau ahli pengobatan. Tetapi Syekh Maulan Ishaq tidak menetap di Jawa, Beliau pindah ke Singapura (Pasai) dan wafat disana.
c.    Maulana Ahmad Jumadil Kubro, berasal dari Mesir, Beliau berdakwah keliling, Makamnya di Troloyo, Trowulen, Mojokerto Jawa Timur.
d.   Maulana Muhammad Al-Maghrobi, berasal dari Maghrib (Maroko). Beliau berdakwah keliling. Wafat tahun 1465 M. Makamnya di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.
e.    Maulana Malik Isro’il, berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Wafat tahun 1435 M. Makamnya di Gunung Santri, Cilegon antara Serang-Merak, Jawa Barat.
f.     Maulana Muhammad Malik Akbar, berasal dari Persia(Iran). Ahli pengobatan, wafat tahun 1435 M, Makamnya di Gunung Santri.
g.    Maulana Hasanuddin, berasal dari Palestina, berdakwah keliling, wafat tahun 1462 M. Makamnya di samping Masjid Banten Lama.
h.    Maulana Aliyuddin berasal dari Palestina. Berdakwah keliling, wafat tahun 1462 M. Makamnya di samping Masjid Banten Lama.
i.      Syekh Subakir, berasal dari Persia, ahli menumbali tanah angker yang dihuni jin-jin jahat tukang menyesatkan manusia, dengan adanya tumbal itu jin-jin tadi akan menyingkir dan tanah yang ditumbali dijadikan pesantren, setelah banyak tempat yang ditumbali maka Syekh Subakir kembali ke Persia pada tahun 1462 M. Dan wafat disana. Salah seorang pengikut atau sahabat Syekh meninggal dunia ketika beristirahat di daerah Blitar. Hingga sekarang makam pengikut Syekh Subakir tersebut ada di sebelah Utara Pemandian Penataran Blitar, Jawa Timur. Disana ada peninggalan Syekh Subakir berupa sajadah yang terbuat dari batu kuno.
Wali Songo periode Kedua ini masuklah tiga orang wali menggantikan tiga wali yang wafat, ketiganya adalah :
a.    Raden Ahmad Ali Rahmatullah, datang ke Jawa pada tahun 1421 menggantikan Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419, raden Rahmat berasal dari Cempa-Muangthai Selatan.
b.    Sayyid Ja’far Shodiq, berasal dari Palestina datang di Jawa tahun 1436 M, menggantikan Malik Isra’ilyang wafat pada tahun 1436 M. Beliau tinggal di Kudus sehingga dikenal sebagai Sunan Kudus.
c.    Syarif Hidayatullah, berasal dari Palestina. Datang di Jawa pada tahun 1436 M, menggantikan Maulana Ali Akbar yang wafat pada tahun 1435. Sidang Wali Songo yang kedua ini diadakan di Ampel Surabaya. Para Wali kemudian membagi tugas. Sunan Ampel (Raden Rahmat), Maulan Ishaq dan Maulan Jumadil Kubro bertugas di Jawa Timur. Sunan Kudus, Syekh Subakir dan Maulana Al-Maghrobi bertugas di Jawa Tengah. Syarif Hidayatullah, Maulana Hasanuddin dan Maulan Aliyuddin di Jawa Barat.
Wali Songo Periode Ketiga yaitu, pada tahun 1463 M. Masuklah empat Wali menjadi anggota Wali Songo antara lain :
a.    Raden Paku atau Syekh Maulana A’inul Yaqin kelahiran Blambangan, Jawa Timur. Putra dari Syekh Maulana Ishaq dengan putri Blambangan yang bernama Dewi Sekardadu. Raden paku ini menggantikan ayahnya yang telah pindah ke Pasai, karena Raden Paku tinggal di Giri, maka beliau dikenal sebagai Sunan Giri, makamnya terletak di Gresik Jawa Timur.
b.    Raden Said atau Sunan Kali Jaga, kelahiran Tuban Jawa Timur. Beliau adalah putra Adipati Wilaktikayang berkedudukan di Tuban, Sunan Kali Jaga menggantikan Syekh Subakir yang kembail ke Persia.
c.    Raden Maqdum Ibrahim atau Sunan Bonang, lahir di Ampel Surabaya, Beliau adalah putra Sunan Ampel, menggantikan maulana Hasnuddin.
d.   Raden Qasim atau Sunan Drajad, kelahiran Surabaya, putra Sunan Ampel, menggantikan Maulana Aliyyudin, sidang ketiga ini juga berlangsung di Ampel Surabaya.
Wali Songo periode Keempat yaitu, pada tahun 1466 diangkat dua Wali yang menggantikan dua Wali yang telah wafat yaitu, Maulana Ahmad Jumadil Kubro dan Maulana Muhammad Al-Maghrobi. Dua Wali yang menggantikannya adalah :
a.    Raden Hasan atau Raden Fattah (Raden Patah) adalah Murid Sunan Ampel, Beliau adalah putra Raja Brawijaya Majapahit. Beliau diangkat sebagai Adipati Bintoro pada tahun 1462 M. Kemudian membangun masjid Demak pada tahun 1465dan dinobatkan menjadi Raja Sultan Demak pada tahun 1468.
b.    Fathullah Khan, putra Sunan Gunung Jati. Beliau dipilih sebagai Wali Songo untuk membantu ayahnya yang telah berusia lanjut. Wali Songo periode Kelima ini masuklah Sunan Muria atau Raden Umar Said putra Sunan Kalijaga menggantikan wali yang wafat. Konon Syekh Siti Jenar itu juga salah seorang anggota Wali Songo, namun karena beliau mengajarkan ajaran sesat maka Syekh Siti Jenar dihukum mati. Selanjutnya kedudukan Syekh Siti Jenar digantikan oleh Sunan Bayat (Sunan Tembayat yang nama aslinya adalah Adipati Pandanarang). [2]

Demikian sekilas gambaran Wali Songo dari berbagai periode. Selanjutnya inilah Walisongo yang dikenal dan dimaklumi oleh masyarakat luas secara umum. Para Wali itu adalah sebagai berikut :
1)      Syekh Maulana Malik Ibrahim
Syeikh Maulana Malik Ibrahim, terkenal dengan sebutan Syeikh Maghribi, berasal dari Gujarat, India. Ia dianggap sebagai pencipta pondok pesantren yang pertama. Ia mengeluarkan mubaligh-mubaligh Islam, yang mengembangkan agama suci itu keseluruh Jawa.[3]

2)      Sunan Ampel
Sunan Ampel (Campa, Aceh, 140 – Ampel, Surabaya, 1481) namanya Raden Rahmat. Ia adalah putra Maulana Malik Ibrahim dan terkenal sebagai perencana pertama kerajaan Islam di jawa. Ia mulai aktivitasnya dengan mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya, sehingga ia dikenal sebagai pembina pondok pesantren di jawa Timur.
Menurut Babat Diponegoro, Sunan Ampel sangat berpengaruh dikalangan Islam Majapahit, bahkan istrinyapun berasal dari kalangan istana. Sunan Ampel tidak mendapatkan hambatan berarti bahkan mendapatkan izin dari penguasan kerajaan. Sunan Ampel tercatat sebagai perancang kerajaan pertama di pulau jawa dengan ibukota di Bintaro, Demak. Dialah yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertama Demak, yang dipandang punya jasa paling besar dalam meletakkan peran politik umat Islam di nusantara.
Disamping itu Sunan Ampel juga ikut mendirikan masjid Agung Demak pada tahun 1479 bersama wali-wali yang lain. Ketika mendirikan masjid tersebut para wali mengadakan tugas. Sunan Ampel diserahi tugas membuat salah satu dari saka gurui (tiang kayu raksasa) yang kemudian dipasang di bagian tenggara. Tiga tiang besar yang lain dikerjakan oleh Sunan Kalijaga untuk yang sebelah timur laut (bukan berupa tiang utuh, tetapi berupa beberapa balok yang diikat menjadi satu yang disebut “saka tatal”) Sunan Bonang untuk tiang sebelah barat laut. Sunan Gunung Jati untuk tiang sebelah barat daya. Semenatara bagian-bagian lain dikerjakan oleh para wali yang lain.[4]
Pada awal Islamisasi pulau jawa, Sunan Ampel menginginkan agar masyarakat menganut keyakinan yang murni, ia tidak setuju dengan kebiasaan adat jawa seperti kenduri, selamatan, sesaji, dan sebagainya tetapi hidup dalam sistem sosial kultural masyarakat yang telah memeluk agama Islam. Namun wali-wali yang lain berpendapat bahwa untuk sementara kebiasaan tersebut harus dibiarkan karena masyarakat sulit meninggalkannya secara serentak. Akhirnya Sunan Ampel mentoleransinya.
3)      Sunan Bonang
Sunan Bonang (Ampel Denta, Surabaya 1465-Tuban 1525) Dianggap sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam dipesisir utara jawa timur. Setelah belajar Islam di pasai, aceh Sunan Bonang kembali ke Tuban, Jawa Timur, untuk mendirikan Pondok pesantren. Santri-santrinya berdatangan dari berbagai daerah di nusantara. Setelah sunan ampel wafat, pesantren yang ditinggalkannya tidak lagi mempunyai pemimpin resmi. Maka untuk mengisi kekosongan itu sunan Bonang memprakarsai musyawarah para wali untuk membicarakan siapa yang akan mempimpin pesantren tersebut. Hasilnya Raden Fatah yang menjadi pengganti almarhum Sunan Ampel.[5]
Dalam menyebarkan Islam Sunan Bonang dan para wali yang lainnya selalu menyesuaiakan diri dengan corak kebbudayaan masyarakat jawa yang sangat menggemari wayang serta musik gamelan. Mereka memanfaatkan pertunjukan tradisional itu sebagai media dakwah Islam, dan menyisipkan nafas Islam kedalamnya. Syair lagu gamelan ciptaan para wali tersebut berisi pesan tauhid, sikap menyembah Allah swt. dan tidak menyekutukan-Nya. Setiap bait lagu diselingi dengan syahadatain (ucapan dua kalimat syahadat); gamelan yang mengiringinya kini dikenal dengan istilah sekaten. Yang berasal dari syahadatain.
Sunan Bonang memusatkan dakwahnya di sekitar jawa timur. Dalam aktifitas dakwahnya beliau mengganti nama-nama dewa dengan nama-nama malaikat dengan tujuan agar para penganut Hindu-Budha mudah diajak masuk Islam. Catatan-catatan pendidikan sunan bonang kini dikenal dengan “suluk Bonang” atau “Primbon sunan Bonang”. Buku ini berbentuk prosa jawa, kalimatnya sangat banyak dipengaruhi bahasa arab.
4)      Sunan Giri
Sunan Giri (Blambangan, pertengahan abad ke-15-Giri, 1506). Nama aslilnya Raden Paku disebut juga prabu Satmata. Kadang-kadang disebut Sultan Abdul Fakih. Ketika usianya beranjak dewasa, raden paku belajar agama di pondok pesantren Ampel Denta dan disana berteman baik dengan Raden Maulana Makdum Ibrahim, putra Sunan Ampel yang dikenal dengan sunan Bonang. Dalam suatu perjalanan haji menuju Mekah, kedua santri ini lebih dahulu memperdalam pengetahuan di pasai. Disini Raden paku sampai pada tingkat ilmu Laduni. Sehingga gurunya menganugerahinya gelar ‘ain al Yakin. Karena itu ia kadang-kadang dikenal masyarakat dengan sebutan Raden ‘ainul Yakin.[6]
Sunan Giri dikenal sebagai pendidik yang berjiwa demokratis. Ia mendidik anak-anak melalui berbagai permainan yang berjiwa agama. Ia juga dipandang sebagai orang yang sangat berpengaruh terhadal jalannya roda kesultanan Demak Bintaro (Kesultanan Demak)
5)      Sunan Drajad
Sunan Drajat (Ampel Denta, Surabaya, sekitar tahun 1470-Sedayu, Gresik pertengahan abad ke-16). Nama aslinya atau Syarifuddin, karena ia dimakamkan di daerah Sedayu, maka kebanyakan masyarakat awam mengenalnya sebagai sunan Sedayu.
Hal yang paling menonjol dalam dakwah sunan Drajat adalah perhatiannya sangat serius kepada masalah-masalah sosial. Ia terkenal mempunyai jiwa sosial da teman-teman dakwahnya selalu berorientasi pada keotong royongan. Ia selalu mempertahankan kepada umum, menyantuni anak yatim dan fakir sebagai suatu bentuk proyek sosial yang dianjurkan oleh agama Islam.[7]
6)      Sunan Muria
Sunan Muria (abad ke-15 abad ke-16) nama aslinya ialah Raden Umar Said, atau raden Prawoto, namun ia lebih dikenal dengan nama Sunan Muria karena pusat dakwahnya dan makamnya terletak di gunung Muria (18 km disebelah utara kota Kudus sekarang).
Ciri khas sunan Muria dalam upaya menyiarkan agama Islam adalah menjadikan desa-desa terpencil sebagai tempat operasinya. Ia lebih suka menyendiri dan bertempat tinggal di desa dan bergaul dengan rakyat biasa. Cara yang ditempuhnya dalam menyiarkan agama Islam adalah dengan kursus-kursus bagi kaum pedagang, para nelayan, dan rakyat biasa. Dalam rangka dakwah melalui budaya ia menciptakan tembang dakwah Sinom dan Kinanti.[8]
7)      Sunan Kudus
Sunan Kudus (Abad ke-15 Kudus, 1550) Nama aslinya Ja’far Sadiq, tetapi sewaktu kecil dipanggil Radeng Undung. Kadang-kadang dipanggil Raden Amir Haji, sebab ketika menunaikan ibadah haji ia bertindak sebagai pimpinan rombongan (amir).
Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah kudus dan sekitarnya, dan dia memiliki keahlian khusus dalam ilmu agama, terutama dalam fikih, usul fikih, tauhid, hadits,tafsir, serta logika. Karena itulah diantara walisongo hanya ia yang mendapatkan julukan sebagai wali al ‘ilmi (orang yang luas ilmunya) dan karena keluasan ilmunya didatangi oleh banyak penuntut ilmu dari berbagai daerah di nusantara.
Dalam melaksanakan dakwah dengan pendekatan kultural, sunan Kudus menciptakan berbagai cerita keagamaan, yang paling terkenal ialah Gending Maskumambang dan Mijil. Ada cerita mengatakan bahwa sunan Kudus pernah belajar di Baitulmakdis, Palestina dan pernah berjasa memberantas penyakit yang menelan banyak korban di Palestina. Atas jasanya itu di beri ijazah wilayah (daerah kekuasan) oleh pemerintah Palestina di Palestina. Namun Sunan Kudus mengharapkan hadiah tersebut dipindah di ke pulaua jawa dan oleh Amir permintaan tersebut dikabulkan. Sekembalinya di jawa ia mendirikan masjid di daerah Loran tahun 1459; masjid itu diberi nama masjid Al Aqsho atau Al Manar (masjid Menara Kudus) dan daerah sekitarnya diganti nama menjadi Kudus diambil dari nama sebuah kota di Palestina Al Quds.[9]
8)      Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga (akhir abad ke-14 – pertengahan abad ke-15) terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan jauh, berfikiran tajam, intelek serta berasal dari suku jawa asli.
Sunan Kalijaga bernama aslli Raden Mas Syahid dan kadang-kadang dijuluki sykh Malaya. Daerah operasi Sunan Kalijaga tidak berbatas, bahan sebagai mubalig ia berkeliling dari satu daerah ke daerah yang lain, karena sistem dakwahnya yang intelek dan aktual, maka para bangsawan dan cendikiawan sangat simpatik kepadanya, demikian juga lapisan masyarakat awam, bahkan penguasa.[10]
Sunan Kalijaga mengarang aneka cerita yang bernafaskan Islam, terutama mengenai etika. Kecintaan masyarakat terhadap wayang digunakan sebagai sarana untuk menarik mereka masuk Islam. Banyak corak batik yang oleh Sunan Kalijaga diberi motif burung, burung dalam bahasa kawi disebu kukula. Kata tersebut ditulis dalam bahasa arab menjadi qu dan qila yang berarti “peliharalah ucapanmu sebaik-baiknya”. Dan menjadi salah satu ajaran etika sunan Kalijaga melalui corak batik.[11]
9)      Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati (Makah,1448-Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat,1570) Nama asilnya Syarif Hidayatullah. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten. Ia mengembangkan dasar bagi pengembangan Islam dan perdagangan orang-orang Islam di Banten pada tahun 1525 atau 1526. ketika ia kembali di Cirebon, Banten diserahkan kepada anaknya, Sultan Maulana Hasanuddin kemudian menurunkan raja-raja Banten. Di tangan raja-raja Banten inilah kemudian Pajajaran dikalahkan. Atas prakarsa sunan Gunung Jati juga penyerangan kesunda Palapa dilakukan pada tahun 1527, penyerangan ini dipimpin oleh Faletehan atau Fatahillah (W.1570)[12]

B.     Aliran tasawuf di Indonesia
Untuk menelusuri aliran-aliran tasawuf yang berkembang di Indonesia, dapat dilakukan dengan melihat konsep-konsep tasawuf yang berkembang pada kurun waktu kerajaan-kerajaan Islam di wilayah Aceh. Dalam karya tulis Hamzah Fansuri dan sufi sezamannnya, nampaknya tasawuf falsafi yang mereka kembangkan. Sebab konsep tanazul dan taraqqi Hamzah Fansuri yang kemudian dikembangkan oleh muridnya Syamsuddin Pasai, adalah modifikasi dari konsepsi tajalli tasawuf Ibn Arabi, yang diawali konsep Al-fana Abu Yazid al-Busthami. Konsep kedua sufi ini ditentang oleh Abdul Rauf Singkel dan mendapat dukungan kuat dari Nuruddin ar-Raniri melalui konsepsi wahdat as-syuhud yang merrupakan penghalusan dari doktrin al-ittihad Abu Yazid.[13]
Dalam perkembangan Islam selanjutnya, sistem pendidikan masyarakat peninggalan Hindu dan Budha diteruskan oleh oleh para penyiar Islam. Proses taransformasi (alih pengetahuan) ilmu keislaman dilakukan secara “sorongan” yang kemudian meningkat dengan cara”bandongan” dan “wetonan”. Dari embrio model ini, kemudian bermunculan model pendidikan islam yang dikenal dengan pesantren dan tarekat sebagai lembaga tasawuf. Dengan demikian kuatnya pengaruh mazhab Syafi’I, maka sufisme yang dipelajari di pesantren adalah tasawuf Sunni yang bersumber dari tasawuf al-ghazli. Lain halnya dengan tarekat, tasawuf yang diajarkan keliahatannya merupakan gabungan dari tasawuf sunni dan tasawuf falsafi. Sebab, tarekat tarekat yang berkembang di Indonesia seperti Tarekat qadiriyah (didirikat oleh Abdul Qadir Jailani), Tarekat Naqsyabandiyah (didirikan oleh Muhammad Bahauddin al-Naqsyaband), tarekat Sammaniyah (didirikan Muhammad Sammani), Tarekat Syattariyah (didirikan oleh Syattar) dan Tarekat Khalwatiyah (didirikan oleh Yusuf al-Khalwati), seluruhnya mengenal dan mengajarkan konsep al-fana, walaupun tidak seluruhnya persis seperti yang diajarkan oleh Abu Yazid al-Busthami.[14]














BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Wali songo (sembilan wali) adalah sembilan ulama yang merupakan pelopor dan pejuang pengembangan agama Islam (islamisasi) di pulau jawa pada abad ke-15. dalam penyiaran Islam dijawa, wali songo dianggap sebagai kepala kelompok dari sejumlah besar mubalig Islam yang mengadakan dakwah-dakwah yang belum memeluk agama Islam.
Aliran-aliran sufi di Indonesia diawali atau dimulai ada sejak zaman Wali songo (wali yang sembilan). Pada masa ini tasawuf mengalami perkembangan yang cukup pesat di Indonesia. Wali songo (sembilan wali) yang merupakan pelopor dan pengembangan agama Islam (Islamisasi) di pulau jawa pada abad ke-15.
Ada banyak aliran-aliran tasawuf yang berkembang di Indonesia, antara lain Tarekat qadiriyah (didirikat oleh Abdul Qadir Jailani), Tarekat Naqsyabandiyah (didirikan oleh Muhammad Bahauddin al-Naqsyaband), tarekat Sammaniyah (didirikan Muhammad Sammani), Tarekat Syattariyah (didirikan oleh Syattar) dan Tarekat Khalwatiyah (didirikan oleh Yusuf al-Khalwati), seluruhnya mengenal dan mengajarkan konsep al-fana, walaupun tidak seluruhnya persis seperti yang diajarkan oleh Abu Yazid al-Busthami.









DAFTAR PUSTAKA
Atjeh, Aboebakar., Pengantar Sejarah Sufi & Tasawuf, Solo: Ramadhani,1990
Siregar, Rivay., Tasawuf: Dari Sufisme Klasik Ke Neo-Sufisme, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002
Wahyudi Asnan., Khalid, Abu., Kisah Wali Songo: Para penyebar agama Islam di tanah Jawa), Surabaya: Karya Ilmu, 2001
Aceh, Abu Bakar., Pengantar Ilmu Tarekat, Jakarta: Fa. HM Thawi & Son, 1996



[1] Asnan Wahyudi, Abu Khalid., Kisah Wali Songo: Para penyebar agama Islam di tanah Jawa, (Surabaya: Karya Ilmu), 2001, hlm 7


[2] Ibid., hlm 8-11
[3] Prof.Dr.H. Aboebakar Atceh, Pengantar Ilmu Sejarah Sufi & Tasawuf, (Solo: Ramadhani), 1990. Hlm 372
[4] Asnan Wahyudi, Abu Khalid, Op.Cit,. hlm 12
[5] Ibid., hlm 19
[6] Ibid., hlm 13
[7] Prof.Dr.H. Aboebakar Atceh, Op.Cit., hlm 374
[8] Asnan Wahyudi, Abu Khalid, Op.Cit,. hlm 13-14
[9] Ibid., hlm 21
[10] Prof.Dr.H. Aboebakar Atceh, Op.Cit., hlm 374
[11] Asnan Wahyudi, Abu Khalid, Op.Cit,. hlm 14
[12] Ibid., hlm 14-15
[13] Rivay Siregar, Tasawuf: Dari Sufisme Klasik Ke Neo-Sufisme, (Jakarta: Raja Grafindo Persada), 2002, hlm 225

[14] Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat, (Jakarta: Fa. HM Thawi & Son), 1996, hlm 291

1 komentar:

  1. wah, thanks yaa!! bisa membantu tugas kuliahku nih!! =D

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca artikel ini ^_^ Silahkan memberi komentar dengan kata-kata yang sopan. Harap tidak memberi komentar dengan kata-kata kasar ^_^